Sunday, June 18, 2017

#MarriedStory 1

Posted by Upiet at 10:51 AM 2 comments
Katanya, "Jodoh itu MIRIP"

_________________________________
x: Mas, kata temenku kok kita mirip ya?
y: Iya loh, dulu waktu aku apload foto kita, temen2ku juga banyak yang bilang kita mirip
x: Hlah. Mirip dari mananya coba? Hmmm 
Mungkin percakapan2 semacam ini sering banget terjadi. Mungkin sebagian ada yg mengalami hal yg sama. Tapi mesti bingung, "apa iya ya?", "sek ini mirip dari mananya hloh?", sambil mikir ndeleng foto suiiiiii. Nyatanya gak cukup satu dua orang saja yang bilang demikian. Banyak.
Emm, jadi teringat sama seorang teman, dia saking amat percayanya sama yang namanya kalau MIRIP berarti JODOH. Hayo, ada yang mikir seperti itu juga gak? hehe. Setiap kali dia melihat orang yang sudah menikah, dia selalu mencari2 kemiripan itu. Emm, kemiripan disini mungkin lebih ke fisik/wajah. Bahkan, sering bilang, "eh mereka kan gak mirip, kayaknya sih mereka gak jodoh". heheu. Ada-ada saja. 
Namun, beberapa hari yang lalu, kejadian ini sempat terjadi saat saya ikut kumpul sama ibuk2, ada seorang ibu muda dijemput sama si suaminya, eh mbak2 yang disamping saya langsung bilang, "Hloh mereka itu suami istri?, Kok mirip sih? Aku kira dia masnya(kakak laki2)" Hloh kan? 
Dan percakapan macam ini juga terjadi kepada salah seorang yg bakal menikah setelah lebaran nanti, ehem 😬, dan walhasil kita berkesimpulan, "eh si ini sama si itu kalau dilihat2 mirip ya ternyata" "Eh iya loh, coba lihat matanya mereka mirip " -sampai sedetail itu.
"Eh iya, tapi kok menurutku lebih mirip ke mamanya",- walah 😂.
Trus, kalau ada misal orang yang menikah berbeda negara, kayak orang jawa menikah dengan bule londo, iku piye kalau mencari kemiripan hayo? 😊
Yah, misteri tentang kalau mirip itu jodoh, dan kalau jodoh itu mirip memang masih, masih opo yo? Nggambyang. hehe.
Tapi tapi, adakan yang bilang jika jodoh itu cerminan. Cerminan bukan hanya dari wajah kan? mungkin juga dengan sifat, akhlak, keunikan2 tersembunyi-oposih-, dan lain sebagainya yang mungkin bisa dikatakan sebagai kemiripan. Misalnya nih, si sesemas ndak terlalu suka makanan pedas, sayapun juga, mungkin ini yang disebut mirip kali ya. Wkwk entahlah. 

Yang pasti, "Segerakanlah menikah, dan temukan jawabnya" 💚

Monday, May 15, 2017

When your life has changed

Posted by Upiet at 8:37 PM 21 comments
15-05-2017
Tiga bulan berlalu
Tidak terasa rasanya baru kemarin tepat ditanggal yang sama saya menikah. Banyak perubahan? Oh jelas itu pasti.
Menikah dalam hitungan minggu bahkan bulan memang penuh warna. Entah warna kebahagiaan, kesedihan, kesesalan, kesedihan, bahkan kekonyolan. Oh ya sering kali saya diomongin oleh teman-teman saya tentang indahnya menikah. Katanya menikah itu hanya indah 3 bulan di depan saja. Setelahnya, baru hidupmu harus berubah dan dimulai. Yaps, benar-benar memulai hidup yang baru. Apalagi jika kamu menikah belum banyak mengenal pasanganmu, tentang sifat-sifatnya. Bahkan belum sempat memikirnya apa yang bakal kita lakukan setelah menikah.
Yang saya tahu, ada 2 tipe orang yang akan menikah dan merubah status dari single dimana kita maunya “semau kita” dan tiba-tiba hidup bersama dengan orang yang sudah kita kenal banget sama yang kenal-kenal saja (It’s kinda be taaruf). Benar-benar beda memang. Dulu sewaktu sebelum menikah sempat diwejangi sama seseorang yang sudahh menikah. Dimana sebelum menikah, kita harus benar-benar persiapkan pernikahan itu sematang mungkin. Bagimana kamu akan menjadikan model keluarga kamu nantinya. Bagaimana perkejaan masing-masing kedepannya. Bagaimana harus mengurus ini itu. Mengurus anak dan segala kesremawutan rumah tangga nantinya.
Namun, bagaimana jika menikah belum (sempat) terlalu mengenal pasangan kita?
Bagi sebagian orang, ini mungkin terlihat istimewa. Banyak tantangan tersendiri ketika kita menghadapi hal baru, dimana semuanya serba baru dengan orang baru (mungkin)belum terlalu kita kenal. Ada banyak hal tentunya. Mulai dari target hidup yang mungkin bahkan terlihat seperti konyol karena kita benar-benar memulai dari nol. Saya yang terbiasa hidup sendiri dengan keasyikan saya, tetiba saya harus disibukkan dengan urusan rumah tangga, memasak missal. Pun dengan suami yang sampai sekarang harus mencari pekerjaan. Baiknya, setelah menikah ada yang membantu mengurus rumah. Riwehnya mengurus keungan. Dimana uang menjadi sesuatu hal yang amat sangat sensitive. Apalagi jika menikah belum sama-sama bekerja. This should be thought before getting married.
Menikah,
Terkadang saya masih meraba-raba apa makna arti kata tersebut.
Hari ini tiga bulan berlalu, masih sempat bingung, sebenarnya seberapa siap waktu itu saya memutuskan untuk menikah? Memutuskan untuk mengambil segala tanggung jawab sah sebagai suami-istri. Bagaimana sama-sama saling mengerti. Walau sebenarnya masih tahap mengenal kembali.
Jika dilihat dari sisi bahagia. Menikah itu jelas bahagia. Bahagia ketika kita bisa menikmati sepring berdua saat makan. Jika sebelumnya malas masak, saking bahagianya jadi sering masak. Bahagia pula, jika biasanya nampang poto sendirian, sekarang jadinya berdua. Jika biasanya mungkin kemana-mana bersama teman, atau bahkan sendirian, sekarang setidaknya ada yang mengantar atau menemani walau hanya sesekali. Bahagia.
Sedih. Tidak bisa dipungkiri kadang sesaat kesedihan itu datang. Ah, tak baiknya rasanya berbagi kesedihan disini. Cukup saya yang tahu.
Pastinya, menikah itu penuh tantangan.
Semoga saya kuat.

Salam Autumn from Adelaide J

Tuesday, November 15, 2016

Terimakasih Bidikmisi dan LPDP

Posted by Upiet at 12:42 AM 1 comments

Adelaide, Spring 2016

Tak pernah terbayang sebelumnya untuk bisa menikmati semerbak harumnya cheerry blossom saat musim semi di negeri kanguru bagian selatan Australia, Adelaide. Diberi kesempatan untuk melanjutkan belajar di sini itu bak membuka pintu-pintu mimpi yang masih terkunci erat. Menaruh mimpi di setiap ruang yang tersekat oleh dinding dan perlu kunci untuk membukanya satu persatu hingga mimpi itu terbuka. Tidak semudah mengejapkan mata. Namun butuh doa, nekad dan nyali besar untuk mendapatakannya.
Tepatnya 6 tahun lalu, kiranya adalah waktu dimana saya mulai tahu tentang mimpi besar itu. Yaps, kuliah. Mendengar saya ingin kuliah waktu itu, sontak ibu saya tercengang.
“Mana mungkin bapakmu bisa menguliahkan kamu nduk?”, itulah kata yang keluar pertama kali dari mulut ibu saya.
Belum selesai kemudian saya bilang, “Ini gratis kok bu, ndak dipunggut sedikitpun biaya”. “Nanti saya juga akan dapat uang hidup bulanan”.
“Sudah jangan mimpi kamu nduk, mana ada kuliah gratis”, pungkasnya singkat.
Hal yang sama yang sempat saya rasakan selepas lulus SMP, hendak melanjutkkan sekolah SMA. Berbakal dengan bantuan Rp. 5000 untuk membeli formulir pendaftaran waktu itu dari uang pemberian wali kelas saya. Nyatanya, Allah memberi jalan hingga saya bisa menyelesaikan SMK saya dengan bantuan beasiswa dan juga iuran guru-guru semasa SMP saya.
Kini lebih nekad lagi. Iya, memang masih seperti mimpi. Kuliah bukan hal yang murah. Apalagi di kampung saya masih sangat jarang orang bisa kuliah apalagi dengan beasiswa. Namun,semangat saya tidak pupus begitu saja. Saya ikut mendaftar kuliah di Universitas Negeri Malang(UM) melalui jalur Bidikmisi. Polosnya saya, saya bahkan tidak tahu ujungnya kampus UM itu dimana. Saya buta tentang kuliah. Karena semua orang waktu itu mengidamkan untuk bisa bekerja. Entah, akhirnya saya memutuskan ikut seleksi Bidikmisi. Saya lengkapi berkas persyaratannya dan kuselipkan ribuan doa di setiap lembarnya. Diantarlah oleh Bu Wiwik, guru BK di sekolah SMKku waktu itu. Bismillah.
Berbulan lamanya menanti pengumuman, sempat galau gegara teman teman saya sudah mencari jalan hidupnya masing-masing. Ada yang sudah kerja di sini di situ. Akhirnya nekad saya urus kartu kuning, kartu untuk persyatan mencari kerja. Nyaris hampir saya putus asa karena pengumuman tak kunjung tiba. Saya memutuskan ikut teman-teman untuk mencoba mengarungi nasib di Kota Batam, kota favorit untuk mengais rupiah katanya. Karena orientasi masa itu adalah kerja kerja dan kerja. Namun, tak lama sepertinya Allah membukakan pintu mimpi-mimpiku selanjutnya.
“Takdirmu lain nak, kamu diterima di Universitas Negeri Malang, Jurusan Bahasa Inggris penuh dibiayai oleh Bidikmisi”
Mendebarkan adalah ketika momen pengumuman lolosnya saya menjadi mahasiswa bidikmisi ini. Kali itu jaman warnet masih jarang, masih ingat betul waktu harus ngontel ke warnet, dan pulang tahu ketika diterima, sekuat-kuatnya saya kayuh sepedaku sesampainya di rumah, “Bu, saya keterima kuliah, kuliahhh bu. Alhamdulillah, jadi kuliah”. Tetes eluh ibu saya rasanya mengungkapkan begitu luar biasa bangganya waktu itu. Anak hanya dari seorang buruh tani berani-beraninya menantang dirinya untuk kuliah. Pilihan macam apa waktu itu?
Entah pilihan Allah mana lagi yang terbaik yang Ia pilihkan. Mengambil Bahasa inggris itu sempat menjadi mimpi buruk di awal semester. IP pas- pasan gegara background kuliah dari tata busana kemudian berjibun dengan grammar, literature, essay. Namun, perlahan hingga lulus saya bisa menyelesaikan tugas belajar saya di UM dengan baik.
Lika-liku menjadi mahasiswa bidikmisi rasanya amat sangat luar biasa. Tidak dapat dipungkiri jika suatu saat beasiswa macet turun. Muter otak bagaimanapun caranya saya bisa hidup adalah tugas kedua selain belajar. Akhirnya menjadi tukang juru reportase koran lokal menjadi andalan saya. Sempat menjajali menjadi tukang penerjemah, namun belum rejeki, karena berkerja pernah tak terupahi. Ingat betul, disaat-saat tahun akhir kuliah. Selain itu, saya juga ngalor-ngidul mencoba mengamalkan ilmu di salah satu sekolah dan bimbingan belajar juga tidak kalah bikin hidup makin serabutan. Godaan makin besar. Wira wiri malang, lelah di jalan. Hujan, malam-malam mengontrol gas sepeda motor. Sempat lagi ketika waktunya membaayar uang kos namun belum cair, sengaja bapak ibu saya mencarikan pinjaman dan mengebalikan saat uang sudah cair. Terkadang harus dicicil sampai sungkan ketika harus ditagih.   
Jika ditanya kontribusi apa yang kamu bisa berikan saat selama 4 tahun kuliah di UM dengan bidikmisi? Rasanya pertanyaan ini benar-benar membuat malu. Saya adalah mahasiswa biasa, bukan dengan IPK cumlaude dan segudang prestasi akademik yang membanggakan. Saya hanya mahasiswa yang hanya mampu menyisihkan sedikit waktunya sekedar berbagi bahagia bersama kawan seperjuangan di Formadiksi UM, walau hanya terkadang menjadi juru tulis kadang menjadi juru dana. Sesekali tiap pekan mencoba menyibukkan diri merangkai berita di LPM Siar, UKMP. Terkadang juga ikut nimbrung di HMJ Legato. Bersyukur bisa belajar dengan orang-orang hebat di sana. Mengenal uniknya mahasiswa penuh talenta dan inspirasi.
Ditengah riuhnya kuliah, saya memberanikan diri memperpanjang mimpiku. Duhai negeri kanguru, apa mungkin saya bisa kesana? Hingga pada akhirnya, 2014 selepas wisuda saya berangkat dengan lagi-lagi mimpi saya. Saya mendaftar LPDP jalur afirmasi, dikarenakan saya alumni bidikmisi dengan IPK cumlaude. Alhamdulillah, dengan ijin Allah dan restu orang tua saya, 2016 awal saya berangkat ke negeri impian, Australia. Ini bukan mimpikah?
Sembari menunggu LPDP, saya memutuskan untuk mengadibkan diri di salah satu sekolah dasar di kabupaten Malang. Mereka adalah inspirasi kesekianku untuk bisa mengejar mimpi saya. Benar-benar mengabdikan waktu dari pagi petang hingga malam petang. Demikian dan seterusnya. Pagi menyalami tangan mungil generasi emas Indonesia, siang menemani mereka yang berjuang dengan tumpukan tugas tugas sekolah dan malam sesekali memutar memori lama pelajaran sekolah untuk anak-anak di kampung saya. Melalahkan itu pasti.
Untuk bisa berada di Adelaide ini, butuh perjuangan yang cukup sayang jika hanya dikenang. Diam-diam saya apply LPDP, karena pada saat itu saya baru saja diterima menjadi guru di salah satu sekolah dasar. Setelah dinyatakan lolos LPDP, saya mengikuti tes di Surabaya. Berempat dengan kawan alumni bidikmisi, petang itu kami berangkat naik motor malam-malam. Bingung mencari tumpangan tempat tinggal. Setelah dinyatakan lolos, mau tidak mau saya harus meninggalkan sekolah saya. Ini momen terberat kesekian di saat saya harus melepas apa yang sudah saya raih dengan susah payah. Melihat wajah-wajah polos penuh harapan dari murid-murid saya adalah seperti tamparan dosa yang sekalinya pedih tercambukkan ke muka saya. Mereka yang amat sangat berat melepas saya pergi. Sempat dibuat geram gegara tidak diijinkan. Ditakuit-takuti karena jika saya keluar kemungkinan saya tidak lain akan hanya ada penyesalan. Tapi ini demi mimpi, saya dengan berat hari meninggalkan mereka. Isak tangis sesakli dengan amarah murid-murid sempat mengacaukan pikiran. Resah berhari-hari. Tiap pagi malam selalu ditanya apa kabar ustadazah(sebutan saya di sekolah)?
Sampai awal 2015, saya mengikuti PK atau persiapan keberangkatan yang merupakan persyaratan wajib penerima LPDP. Waktu itu kami berangkat bersama beberapa teman alumni bidikmisi UM lainya menuju Jogja, salah satunya adalah Sahrul Romadhon, ketua Formadiksi 2011. Kami sempat terlantar, terusir ketika mencoba menumpang di emperan Masjid, tertinggal kereta, sampai kehilangan laptop. Sungguh, keberadaan mereka adalah semangat yang tak terbayarkan. Selain itu bisa bertemu orang-orang hebat dari seluruh negeri adalah angugerah mimpi kesekian saya dalam hidup. Mengikuti pengayaan Bahasa selama 6 bulan di Bandung. Menyisihkan sedikit rupiah untuk tes IELTS yang terkenal mahal. Pagi malam hari tiada kata selain belajar dengan IELTS. Pernah dibilang terlalu ambisius karena saya terlalu bermimpi untuk bisa belajar di Australia. “Tidak”, saya katakan. Ini adalah pilihanku dan saya harus bertanggung jawab untuk pilihan dan mimpiku yang telah saya perbuat sendiri.
Kini saya berada diujung semester tahun pertama saya. Banyak hal baru yang saya pelajari disini. Dunia belajar yang cukup bebeda dari Indonesia.
Bahagia adalah ketika saya bisa mengenalkan Indonesia di luar negeri. Sering menampilkan budaya Indonesia lewat tarian dan music tradisional di hadapan ratusan warga asing terkadang membuat hati terenyuh. "Cuma ini yang saya bisa”, mungkin begitulah gumamku ketika melihat penonton antusias melihat kami. Selain belajar, sangat bersyukur sekali bisa mengenal negara ini dengan orang-orang yang baik. Ikut mengabdi di Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia(PPIA) di Adelaide, menjadi volunteer inspirasi di salah satu sekolah di sini, berbagi sedikit kisah hidup bersama mentees saya. 
Semua itu berawal hanya dari mimpi tanpa sengaja terbuka satu persatu hingga menjadi kenyataan. Alhamdulillah, berkat Bidikmisi pula saya bisa berada di sini. Menyambung mimpi-mimpi yang lain. Menyiapkan kunci untuk membukanya.  Saya yakin, setiap dari kita pasti merasakan rasanya membuka satu persatu pintu mimpimnya. Namun, setiap dari kita pasti memiliki kunci masing-masing dan cara berbeda untuk membukanya. 
Terimakasih Bidikmisi.
Terimakasih LDPD.
Terimakasih sudah mengantarkanku untuk menjemput setiap mimpiku.


Penulis:
Fitria Ningsih
Alumni Mahasiswa Bidikmisi UM 2014, 
Mahasiswi Master of Education, Adelaide University, Australia
 

Upiet Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review